Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Merasa Tertinggal? Mungkin Kita Hanya Datang di Waktu yang Tidak Sama

 

Gambar reflektif tentang perjalanan hidup yang tidak selalu cepat dan tidak perlu dibandingkan

Kita Tidak Tertinggal, Hanya Berbeda Waktu

Ada satu perasaan yang diam-diam sering datang di tengah malam: merasa tertinggal.

Melihat teman sudah menikah, sudah mapan, sudah punya karier tetap, sementara kita masih berjuang di titik yang sama.

Scroll media sosial sebentar saja, rasanya hidup orang lain selalu selangkah lebih maju.

Lalu muncul pertanyaan yang pelan tapi menusuk:

“Aku telat ya?”

Padahal, mungkin masalahnya bukan kita tertinggal.

Mungkin kita hanya berjalan di waktu yang berbeda.


Standar Hidup yang Terlalu Seragam

Sejak kecil, kita diajarkan garis waktu yang rapi:

sekolah tepat waktu, lulus tepat waktu, kerja cepat, sukses cepat.

Siapa yang keluar dari garis itu, sering dianggap gagal atau lambat.

Padahal hidup bukan pabrik.

Tidak semua orang punya bahan, mesin, dan kondisi yang sama.

Ada yang harus berhenti sekolah karena keadaan.

Ada yang harus kuat dulu sebelum berani melangkah.

Ada yang terlihat diam, padahal sedang menyusun ulang dirinya yang hancur.

Sayangnya, dunia jarang mau tahu cerita di balik proses.

Yang terlihat hanya hasil.


Perbandingan yang Tidak Pernah Adil

Kita sering membandingkan awal kita dengan tengah atau akhir perjalanan orang lain.

Dan itu tidak pernah adil.

Kita melihat senyum, tapi tidak tahu malam-malam penuh cemasnya.

Kita melihat pencapaian, tapi tidak melihat jatuh bangunnya.

Kita melihat hasil, tapi lupa bahwa proses setiap orang berbeda.

Membandingkan hidup seperti membandingkan jam dinding dengan jam matahari.

Sama-sama menunjukkan waktu, tapi caranya berbeda.

Dan perbedaan cara bukan berarti kesalahan.


Setiap Orang Punya Musimnya Sendiri

Ada orang yang bersinar di usia muda.

Ada yang baru menemukan arah setelah jatuh berkali-kali.

Ada yang lambat di awal, tapi kuat di akhir.

Pohon mangga tidak iri pada padi yang panen lebih cepat.

Karena ia tahu, buahnya akan datang di musimnya sendiri.

Begitu juga hidup.

Bukan siapa yang lebih cepat, tapi siapa yang tetap bertahan.

Kita sering lupa bahwa proses pelan bukan kegagalan.

Ia hanya tanda bahwa kita sedang tumbuh dengan cara yang berbeda.


Terlambat Menurut Siapa?

Coba kita jujur pada diri sendiri:

terlambat menurut siapa?

Menurut tetangga?

Menurut komentar orang?

Atau menurut ekspektasi yang bahkan tidak kita buat sendiri?

Banyak dari rasa “tertinggal” sebenarnya bukan suara hati,

melainkan suara luar yang terlalu sering kita dengarkan.

Padahal hati kita tahu,

kita sedang berjalan, meski pelan.

Kita sedang belajar, meski tertatih.

Dan itu tetap sah.


Pelan Bukan Berarti Berhenti

Berjalan pelan bukan berarti tidak bergerak.

Diam sejenak bukan berarti menyerah.

Ada fase hidup di mana yang paling penting bukan berlari,

tapi memahami diri sendiri.

Mungkin sekarang kita sedang membangun mental.

Menyembuhkan luka lama.

Belajar menerima diri apa adanya.

Hal-hal itu tidak terlihat,

tapi sangat menentukan masa depan.

Fondasi yang kuat memang lama dibuat,

tapi ia tidak mudah runtuh.


Kita Masih Di Jalan yang Sama

Hidup bukan lomba lari.

Tidak ada podium untuk siapa yang paling cepat sampai.

Yang ada hanya perjalanan panjang dengan rute berbeda-beda.

Ada yang lurus, ada yang berbelok, ada yang harus memutar jauh.

Dan semua rute itu tetap sah.

Selama kita masih mau belajar,

masih mau bangkit,

masih mau berusaha meski lelah,

kita tidak tertinggal.

Kita hanya tiba di waktu yang berbeda.


Percaya pada Waktu Kita Sendiri

Tidak apa-apa jika sekarang belum seperti yang diharapkan.

Tidak apa-apa jika progres terasa kecil.

Tidak apa-apa jika orang lain sudah jauh di depan.

Karena hidup bukan tentang siapa yang duluan,

tapi siapa yang tetap melangkah meski ragu.

Percayalah, waktu kita akan datang.

Dengan cara yang mungkin tidak sama,

tapi tetap bermakna.

Dan saat itu tiba,

kita akan sadar:

ternyata selama ini kita tidak pernah tertinggal—

kita hanya sedang menunggu waktu kita sendiri.


Post a Comment for "Merasa Tertinggal? Mungkin Kita Hanya Datang di Waktu yang Tidak Sama"